Gratis Ongkir Untuk Pembelian Minimal Rp 100.000 (Cek di Syarat dan Ketentuan)

Artikel

Bacaan Islami pilihan untuk menambah ilmu.

TAUHID

Hakikat dan Kedudukannya

Firman Allah ﷻ,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat: 56).

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

"Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut' itu." (An-Nahl: 36).

Catatan:

Ibadah, ialah penghambaan diri kepada Allah ﷻ dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. Dan inilah hakikat agama Islam, karena Islam maknanya ialah menyerahkan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.

Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai Allah. Dan suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadah apabila dilandasi ikhlas semata-mata karena Allah, dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.

Thaghut ialah setiap yang diagungkan selain Allah dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun setan.

Menjauhi thaghut: mengingkarinya, membencinya; tidak mau menyembah dan memujanya baik dalam bentuk dan dengan cara apa pun.

Sumber: Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad At-Tamimi, Darul Haq.

ADAB-ADAB PELAJAR DAN PENGEMBAN AL-QUR'AN

  • Berdoa kepada Allah dengan tulus dan ikhlas agar berkenan memberinya pertolongan untuk menghafal al-Qur'an, dan hendaklah niatnya itu semata-mata mencari keridhaan Allah dalam amal dan ilmunya.
  • Menghafal dan mengamalkan al-Qur'an itu hendaklah dapat menambah ketinggian dan keluhuran derajatnya. Nabi ﷺ bersabda,

    إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ.

    "Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) sebagian kaum dengan al-Kitab ini, dan menjatuhkan (derajat) sebagian yang lainnya dengannya." (HR. Muslim)

  • Menghindari sebab-sebab yang dapat menyibukkan diri (lalai) dari usaha meraih kesempurnaan ilmu.
  • Hendaklah berusaha menghafal dengan talaqqi (langsung bertemu guru ahli al-Qur'an).
  • Mewaspadai masuknya rasa putus asa ke dalam hati karena lamanya masa menghafal. Rasulullah ﷺ bersabda,

    إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

    "Sesungguhnya ilmu itu hanya (dapat diraih) dengan belajar." (HR. ad-Daruquthni)

Sumber: Adab dan Akhlak Islami, Majid Sa'ud al-Ausyan, Darul Haq.

MENGENAL KONDISI DAN PEMBAGIAN HATI

Hati ibarat seorang raja yang mengatur bala tentaranya. Ia memberi perintah dan berbuat sesuka hati. Sementara mereka semua berada di bawah perbudakan dan kekuasaannya. Mereka akan lurus atau menyimpang itu karena mengikuti keinginannya, baik yang diperintahkan maupun yang dilarang. Nabi ﷺ bersabda:

"Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah hati."

Hati ibarat raja bagi jasad, sementara jasad ibarat tentara yang siap melaksanakan perintah dan menerima petunjuknya. Setiap amalnya yang lurus bersumber dari hati dan niat sang raja. Dan hati bertanggung jawab atas kinerja jasad. Karena, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Oleh sebab itu, memperbaiki dan meluruskan hati merupakan tugas pertama yang diemban orang-orang yang menapaki jalan kebenaran. Sementara memeriksa penyakit dan mengobatinya ialah tindakan paling urgen yang dilakukan para ahli ibadah.

Bila seseorang tidak bisa menyelamatkan hatinya, ia tidak bisa mencegahnya dari perangkap dan tipu daya setan, kecuali dengan memohon pertolongan Allah. Ketika mengetahui sumber ketergantungan hati, iblis menyeretnya dengan perasaan waswas, menghadapkannya dengan berbagai kesenangan, dan menghiasi keadaannya dengan perbuatan yang bisa menggelincirkannya dari jalan kebenaran.

Sumber: Penyucian Jiwa Dalam Islam, Ahmad Farid, Ummul Qura.

Rumah Tangga Adalah Amanah

Para suami yang mulia. Sadarilah, engkau adalah pemimpin rumah tangga. Pemimpin bagi istri dan anak-anakmu. Bersiaplah mengemban amanah sebagai pemimpin.

Seorang suami harus menyiapkan dirinya sebagai pemimpin. Ia harus melatih dirinya menjadi pribadi yang baik, memikul tanggung jawab dengan amanah, dan menanamkan jiwa kepemimpinan dalam dirinya.

Buanglah sifat kekanak-kanakan dan sikap tidak bertanggung jawab. Sadarilah engkau sekarang telah menjadi lokomotif yang di belakangmu telah menunggu gerbong-gerbong yang siap untuk dibawa.

Ingatlah, rumah tangga adalah amanah dan tanggung jawab besar yang harus kita pikul sebaik-baiknya, amanah yang tidak boleh dilakukan dengan serampangan sesuka hati.

Kita harus selalu ingat bahwa tanggung jawab ini akan ditanyakan oleh Allah kelak di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

"Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Amir yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya. Dan ia akan ditanya tentangnya. Seorang budak adalah pemimpin pada harta tuannya. Dan ia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah, setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya."

Wahai suami. Jagalah amanah ini dengan sebaik-baiknya. Jadilah engkau seorang pemimpin yang bertanggung jawab lagi berakhlak mulia. Suami yang penuh wibawa dan kasih sayang. Suami yang mampu memimpin dan mendidik istri serta anak-anakmu demi meraih keridhaan Allah عز وجل. Menuntun mereka menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Catatan kaki: Hadits riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 893) dan Muslim (no. 4828).

Sumber: Surat Terbuka Untuk Suami, Abu Ihsan Al-Atsari dan Ummu Ihsan, Pustaka Imam Syafii.

Dan Perintahkanlah Keluargamu Agar Mendirikan Shalat

Ini adalah perintah Ilahi yang mulia, arahan Rabbani yang agung, kebanyakan manusia menyia-nyiakan dan melalaikannya. Ketahuilah, yang aku maksud adalah firman Allah di bagian akhir Surah Thaha,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

"Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu; (justru) Kami-lah Yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi (orang-orang yang) bertakwa." (QS. Thaha: 132)

Ini adalah perintah dari Allah kepada Nabi dan orang terpilih-Nya, Muhammad bin Abdullah ﷺ. Apa yang Allah perintahkan kepada Nabi-Nya, maka ia merupakan perintah bagi umat beliau selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya untuk beliau, dan di sini tidak ada yang mengkhususkan perintah ini (untuk beliau) berdasarkan kesepakatan para ulama. Maka wajib bagi setiap bapak dan setiap wali al-amri agar memperhatikan anak-anaknya dengan perhatian yang besar, memonitor mereka secara saksama dalam urusan shalat yang merupakan rukun Islam.

Sumber: Misteri dan Keagungan Shalat, Abdurrazzaq Bin Abdul Muhsin Al Badr, Darul Haq.

Syarah Kasyfu Syubhat karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Syarah Kasyfu Syubhat merupakan penjelasan terhadap kitab Kasyfu Syubhat karya Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Kitab ini disyarah oleh ulama Ahlus Sunnah kontemporer, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, dengan bahasa yang jelas, sistematis, dan mudah dipahami.

Pembahasan utama kitab ini adalah menjelaskan hakikat tauhid serta membantah berbagai syubhat (kerancuan pemikiran) yang digunakan untuk membenarkan perbuatan syirik, terutama dalam masalah ibadah kepada selain Allah. Syaikh Al-Fauzan menjelaskan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat dan ulama salaf, sekaligus menerangkan kaidah-kaidah penting dalam menghadapi syubhat agar seorang muslim tetap teguh di atas akidah yang benar.

Keunggulan kitab ini terletak pada penjelasannya yang ringkas namun padat, disertai faedah-faedah ilmiah yang relevan dengan berbagai bentuk penyimpangan akidah yang masih dijumpai hingga saat ini. Oleh karena itu, kitab ini sangat bermanfaat bagi penuntut ilmu, dai, maupun kaum muslimin yang ingin memperdalam pemahaman tentang tauhid dan menjaga diri dari kesyirikan.

Dengan mempelajari Syarah Kasyfu Syubhat, diharapkan seorang muslim semakin mengenal pentingnya memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta'ala, mampu membedakan antara kebenaran dan syubhat, serta semakin kokoh dalam memegang akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan pemahaman generasi salaf.